Mengenal Gus Rozin, Putra Pesantren yang Kini Maju sebagai Calon Ketum PBNU

Reporter : Jatim Memanggil
KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin. (Jatim Memanggil/Istimewa)

JATIM MEMANGGIL - Nama KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin semakin menjadi perhatian menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah itu menyatakan siap maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), membawa pengalaman panjang di lingkungan pesantren, organisasi NU, pendidikan, hingga pemerintahan.

Gus Rozin bukan figur yang tiba-tiba muncul ketika kontestasi Ketua Umum PBNU mulai menghangat. Kiprahnya di lingkungan Nahdlatul Ulama telah berlangsung lebih dari dua dekade, dengan perjalanan yang membawanya dari organisasi pelajar dan kepemudaan NU hingga dipercaya mengemban sejumlah posisi strategis di tingkat nasional.

Baca juga: Gus Zaki: Muktamar NU Jangan Dikunci Paket, Peserta Harus Bebas Tentukan Pemimpin

Latar belakang pesantren menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan Gus Rozin. Ia tumbuh di lingkungan Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, Jawa Tengah, yang juga menjadi bagian penting dari perjalanan intelektual dan pengabdiannya.

Gus Rozin merupakan putra angkat almarhum KH MA Sahal Mahfudh dan Nyai Hj Nafisah Sahal. KH MA Sahal Mahfudh dikenal pernah menjadi Rais Aam PBNU sekaligus Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, sementara Nyai Nafisah Sahal juga memiliki rekam jejak panjang dalam organisasi NU dan Muslimat NU.

Dari lingkungan pesantren tersebut, Gus Rozin kemudian berkembang menjadi figur yang tidak hanya bergerak dalam pendidikan keagamaan. Ia juga memperluas pengalaman melalui pendidikan formal, organisasi kemasyarakatan, pengembangan pesantren, hingga keterlibatan dalam pemerintahan dan sejumlah lembaga publik.

Perjalanan pendidikannya berlangsung dari lingkungan pesantren dan Perguruan Islam Mathali'ul Falah di Kajen. Setelah itu, ia melanjutkan pengembaraan intelektual ke Pesantren Fathul Ulum Kwagean, Kediri, sebelum kemudian menempuh pendidikan tinggi hingga meraih gelar Master of Education dari Monash University, Australia, pada 2004.

Pengalaman akademiknya kemudian berlanjut hingga jenjang doktoral. Gus Rozin menyelesaikan pendidikan S3 di Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang pada 2023.

Di lingkungan NU, Gus Rozin mulai aktif sejak masih berada dalam organisasi pelajar. Ia tercatat pernah menjadi pengurus Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) periode 1998-2001, kemudian berkiprah di Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor pada periode 2000-2004.

Pengalamannya kemudian berkembang di bidang pendidikan dan pesantren. Ia pernah dipercaya sebagai Wakil Ketua Lembaga Pendidikan Ma'arif PBNU, memimpin Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) PWNU Jawa Tengah, hingga menjadi Ketua RMI PBNU periode 2015-2021.

RMI sendiri menjadi salah satu ruang penting dalam perjalanan Gus Rozin karena lembaga tersebut berkaitan erat dengan jaringan pesantren NU. Dalam kiprahnya di bidang tersebut, ia terlibat dalam sejumlah agenda penguatan pesantren, termasuk advokasi Undang-Undang Pesantren, gerakan Ayo Mondok, penguatan Hari Santri, serta berbagai program pemberdayaan pesantren dan santri.

Pengalaman tersebut membuat isu pesantren menjadi salah satu bidang yang kuat dalam rekam jejak Gus Rozin. Ia tidak hanya melihat pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai salah satu basis penting kekuatan sosial NU.

Karier organisasi Gus Rozin kemudian berlanjut ke struktur PBNU. Ia pernah mengemban amanah sebagai Katib Syuriah PBNU dan kini dipercaya menjadi Ketua PWNU Jawa Tengah untuk masa khidmat 2024-2029.

Di luar struktur jam'iyyah, pengalaman Gus Rozin juga bersentuhan dengan pemerintahan. Ia pernah dipercaya menjadi Staf Khusus Presiden Republik Indonesia Bidang Keagamaan Dalam Negeri periode 2017-2019. Pengalaman tersebut menambah spektrum kiprahnya karena ia berada dalam ruang yang mempertemukan persoalan keagamaan, kebijakan publik, dan kehidupan kebangsaan.

Selain menjadi Staf Khusus Presiden, Gus Rozin juga pernah terlibat sebagai anggota Dewan Ketahanan Pangan Nasional serta Tim Komunikasi Sosial Kementerian Sekretariat Negara. Rekam jejak tersebut menunjukkan bahwa pengalaman yang dimilikinya tidak hanya dibangun dari lingkungan organisasi keagamaan, tetapi juga dari interaksi dengan ruang pemerintahan dan kebijakan publik.

Saat ini, Gus Rozin juga tercatat mengemban sejumlah posisi di luar struktur NU. Ia dipercaya sebagai Ketua Majelis Masyayikh Pesantren Indonesia, Wakil Sekretaris Jenderal MUI Pusat, Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syariah, serta Dewan Pengarah Badan Arbitrase Syariah Nasional.

Dengan latar belakang tersebut, keputusan Gus Rozin maju dalam bursa Ketua Umum PBNU menjadi kelanjutan dari perjalanan panjangnya di lingkungan NU. Ia menyatakan kesiapannya setelah melalui proses perenungan dan berdiskusi dengan sejumlah sahabat serta pengurus NU di berbagai daerah.

Pernyataan kesiapan itu disampaikan pada Juli 2026 menjelang Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Forum tersebut menjadi momentum penting bagi NU karena akan menentukan kepemimpinan organisasi untuk periode berikutnya.

Baca juga: Sarung Mangga Dukung Muktamar NU ke-35 di Jombang, Dorong Tradisi Bersarung Tetap Hidup

Gus Rozin menyebut pencalonannya bukan semata-mata persoalan mengejar jabatan. Ia ingin membawa gagasan mengenai pembenahan organisasi sekaligus mengembalikan kepercayaan warga Nahdliyin terhadap NU.

Menurut Gus Rozin, Muktamar ke-35 harus menjadi ruang evaluasi terhadap berbagai persoalan yang berkembang di tubuh organisasi. Ia pernah menyoroti sejumlah isu, mulai dari persoalan internal organisasi, peristiwa yang melibatkan pesantren, isu konsesi tambang, hingga menurunnya daya kritis NU.

Di tengah proses menuju muktamar, Gus Rozin kemudian aktif melakukan silaturahmi ke sejumlah daerah. Kunjungan tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk menyampaikan visi pencalonan, tetapi juga menjadi ruang untuk mendengar aspirasi PWNU dan PCNU.

Dalam gagasan yang dibawanya, Gus Rozin menawarkan konsep poros tengah untuk merawat ukhuwah dan mengakhiri polarisasi. Ia menilai perbedaan pandangan di tubuh NU merupakan sesuatu yang wajar, tetapi perbedaan tidak boleh berkembang menjadi fragmentasi yang mengganggu persatuan jam'iyyah.

“Poros tengah bukan poros untuk berhadapan dengan siapa pun. Poros tengah adalah jalan untuk mempertemukan berbagai pihak, meredakan ketegangan, dan mengembalikan NU kepada kepentingan yang lebih besar, yaitu ukhuwah Nahdliyah dan keberlanjutan khidmah jam’iyyah,” kata Gus Rozin.

Selain persoalan persatuan, ia membawa gagasan penguatan NU sebagai kekuatan masyarakat sipil keagamaan. Menurutnya, NU memiliki akar yang kuat di tengah masyarakat melalui pesantren, madrasah, masjid, majelis taklim, lembaga pendidikan, badan otonom, hingga jaringan ekonomi warga.

Karena itu, Gus Rozin menilai NU harus tetap memiliki posisi kritis dan independen dalam berhubungan dengan pemerintah. Ia menyebut NU harus dapat menjadi sahabat pemerintah yang mampu memberikan dukungan ketika kebijakan berpihak kepada masyarakat sekaligus berani mengingatkan ketika terdapat kebijakan yang tidak sesuai dengan kepentingan publik.

Gagasan lain yang dibawa Gus Rozin adalah membangun NU yang mandiri dan berdaulat dengan mengandalkan kekuatan jamaah. Ia melihat potensi besar NU berada pada jaringan warga yang tersebar hingga tingkat akar rumput, termasuk pesantren, petani, nelayan, pelaku UMKM, pekerja, profesional, dan berbagai komunitas masyarakat.

“Di NU jamaahnya dulu ada, lalu jam’iyyahnya terbangun. Karena itu, kalau kita ingin membangun NU yang mandiri, kita harus kembali kepada kekuatan jamaah,” ujarnya.

Baca juga: DPT Muktamar NU ke-35 Nyaris Rampung, Panitia: Tinggal 5 Persen Lagi

Kemandirian tersebut menurutnya tidak hanya menyangkut pembiayaan organisasi. Pengelolaan aset, pengembangan ekonomi warga, penguatan pendidikan, penguasaan teknologi, serta kemampuan mengambil keputusan secara independen juga menjadi bagian dari agenda kemandirian NU.

Sejumlah pengurus NU di daerah pun mulai memberikan penilaian terhadap kapasitas Gus Rozin. Ketua Tanfidziyah PWNU Aceh Tengku Haji Faisal Ali, misalnya, menilai pengalaman dan kemampuan Gus Rozin dalam memimpin organisasi telah teruji dalam berbagai situasi.

Faisal juga menilai pengalaman Gus Rozin dalam membentengi pesantren dan menjaga nilai serta tradisi pesantren menjadi salah satu modal penting dalam pencalonannya. Menurutnya, keputusan Gus Rozin maju sebagai calon Ketua Umum PBNU telah melalui proses pertimbangan dan istikharah.

Kontestasi menuju kursi Ketua Umum PBNU sendiri diperkirakan berlangsung dinamis. Selain Gus Rozin, sejumlah nama lain turut disebut dalam bursa, termasuk Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa, Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, serta sejumlah tokoh pesantren dan tokoh nasional lainnya.

Di tengah persaingan tersebut, modal Gus Rozin bukan hanya berasal dari latar belakang keluarga pesantren. Rekam jejak panjang di NU, pengalaman mengelola pesantren, pendidikan, organisasi, pemerintahan, serta jaringan sosial menjadi bagian dari profil yang ia bawa menuju Muktamar ke-35.

Namun, tantangan terbesar Gus Rozin bukan sekadar memperkenalkan rekam jejak. Ia harus mampu menerjemahkan pengalaman dan gagasan tersebut menjadi dukungan nyata dari struktur NU yang memiliki mekanisme tersendiri dalam menentukan kepemimpinan.

Muktamar pada akhirnya akan menjadi ruang untuk menguji sejauh mana gagasan, pengalaman, jaringan, dan tingkat penerimaan terhadap setiap kandidat. Bagi Gus Rozin, pencalonan ini menjadi kesempatan untuk menawarkan arah baru sekaligus mengajak warga NU membicarakan masa depan organisasi lebih jauh daripada sekadar persoalan pergantian figur.

Dengan pengalaman yang berangkat dari pesantren, bergerak melalui organisasi NU, masuk ke ruang pemerintahan, dan kembali memperkuat struktur NU di daerah, Gus Rozin kini berada di salah satu fase paling penting dalam perjalanan pengabdiannya. Muktamar ke-35 akan menjadi momentum yang menentukan apakah rekam jejak panjang tersebut mampu mengantarkannya ke pucuk kepemimpinan PBNU atau justru menjadi modal untuk memperkuat khidmah di jalur lainnya.

Editor : Ahmad Adirin

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru