JATIM MEMANGGIL - Silaturahmi KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin ke Bangkalan, Madura, Ahad (23/8/2026), berlangsung dalam suasana sederhana. Namun, pertemuan tersebut menyimpan sejumlah momen simbolik ketika Gus Rozin sowan kepada KH Muhammad Faishol Anwar, cicit Syaikhona Kholil Bangkalan.

KH Faishol yang merupakan salah satu sesepuh Bani Syaikhona Kholil sekaligus Rais Syuriyah PCNU Bangkalan mengalungkan sebuah sorban hijau bercorak keemasan kepada Gus Rozin.

Prosesi itu berlangsung di sela-sela pertemuan setelah Gus Rozin mengikuti dialog dengan jajaran NU se-Madura.

Gus Rozin menundukkan kepala ketika KH Faishol mengangkat sorban dan mengalungkannya ke pundaknya.

“Nggih, nggih. Bismillah... Alhamdulillah,” ucap KH Faishol.

Tidak ada rangkaian seremoni yang panjang. Pengalungan sorban berlangsung singkat sebelum keduanya melanjutkan pertemuan dengan suasana yang tetap cair.

Sebelumnya, Gus Rozin duduk bersila di atas karpet. Di hadapannya, KH Faishol duduk di sofa. Sebuah meja kecil berada di antara keduanya. Beberapa orang mendampingi dari jarak dekat.

Pertemuan kemudian bergeser ke ruangan lain yang menyimpan sejumlah benda lama di lingkungan keluarga Syaikhona Kholil.

Salah satu benda yang diperlihatkan kepada Gus Rozin adalah sebuah koper atau peti kayu tua yang bentuknya menyerupai koper zaman dahulu.

KH Faishol menunjuk bagian-bagian koper tersebut sembari menjelaskan sejarah benda yang masih tersimpan di lingkungan keluarga.

“Koper... koper biyen niki,” tuturnya.

Tulisan yang terdapat pada bagian luar koper kemudian menjadi perhatian.

“Ada tulisan ‘KH. Khalil’,” ujar salah seorang yang hadir.

“Nggih, K.H. Khalil,” jawab KH Faishol.

Percakapan selanjutnya menyentuh perjalanan ke Makkah pada masa lalu. Koper tersebut disebut berkaitan dengan perjalanan ke Tanah Suci, meski tidak terdapat keterangan yang memastikan kapan tepatnya benda tersebut digunakan.

“Waktu teng Makkah tahun pinten kirang-kirang... mboten wonten keterangan,” kata KH Faishol.

Gus Rozin memilih lebih banyak mendengarkan. Ia melihat benda tersebut dari dekat sembari menyimak cerita KH Faishol.

Suasana pertemuan tidak seperti forum resmi. Tidak ada pidato atau sambutan panjang. Percakapan berjalan secara informal, mulai dari cerita mengenai benda lama hingga sejarah keluarga Syaikhona Kholil.

Momen tersebut menjadi bagian dari rangkaian sowan Gus Rozin kepada para ulama dan sesepuh NU menjelang Muktamar ke-35.

Syaikhona Kholil Bangkalan sendiri memiliki posisi penting dalam sejarah keulamaan Nusantara. Nama ulama tersebut sangat erat dengan perkembangan jaringan keilmuan pesantren dan ulama yang kemudian menjadi bagian dari sejarah Nahdlatul Ulama.

Karena itu, pertemuan dengan keluarga dan keturunan Syaikhona Kholil memiliki makna tersendiri dalam rangkaian silaturahmi Gus Rozin.

Apalagi pertemuan tersebut berlangsung di Bangkalan, wilayah yang menjadi salah satu pusat penting dalam sejarah keulamaan Madura.

Sebelum sowan kepada KH Faishol, Gus Rozin mengikuti pertemuan dengan jajaran PCNU se-Madura. Dalam forum tersebut, ia berdialog mengenai berbagai persoalan NU sekaligus mendengarkan pandangan mengenai arah organisasi ke depan.

Rangkaian tersebut kemudian dilanjutkan dengan kunjungan kepada KH Faishol.

Pengalungan sorban berlangsung setelah Gus Rozin berada di lingkungan keluarga Syaikhona Kholil. Sorban tersebut menjadi simbol yang paling terlihat dari pertemuan tersebut.

Namun, momen yang terjadi setelahnya juga tidak kalah menarik. Gus Rozin diajak melihat benda lama yang masih disimpan keluarga, kemudian mendengarkan cerita mengenai perjalanan benda tersebut.

Dari sorban hingga koper tua, pertemuan itu memperlihatkan bagaimana silaturahmi berlangsung melalui percakapan sederhana dan penghormatan terhadap sejarah.

Bagi Gus Rozin, sowan tersebut menjadi bagian dari perjalanan menjelang Muktamar ke-35 NU. Setelah menemui struktur NU di Madura, ia menyempatkan diri bertemu dengan sesepuh Bani Syaikhona Kholil.

Rangkaian itu memperlihatkan pola silaturahmi yang tidak hanya berorientasi pada forum organisasi, tetapi juga menyentuh hubungan dengan ulama dan keluarga pesantren yang memiliki akar sejarah panjang dalam tradisi NU.