JATIM MEMANGGIL - Penguatan sumber daya manusia menjadi salah satu agenda yang ditekankan KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin selama memimpin Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah. Salah satu bentuk konkretnya ditunjukkan melalui keberangkatan delapan kader muda NU Jawa Tengah untuk melanjutkan pendidikan tinggi di sejumlah perguruan tinggi di Tiongkok.
Delapan kader tersebut dilepas dalam acara yang berlangsung di Kantor PWNU Jawa Tengah, Semarang, Senin (24/8/2026). Mereka merupakan penerima beasiswa yang sebelumnya mengikuti proses pendampingan dan pembinaan melalui Lembaga Pendidikan Ma'arif NU Jawa Tengah.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses pendidikan global bagi kader muda Nahdliyin. Mereka tidak hanya mendapatkan kesempatan kuliah di luar negeri, tetapi juga dipersiapkan agar mampu beradaptasi dengan lingkungan akademik dan budaya di negara tujuan.
Ketua LP Ma'arif NU Jawa Tengah Fakhruddin Karmani mengatakan, para penerima beasiswa merupakan murid berprestasi yang berada di bawah binaan dan pendampingan LP Ma'arif NU Jawa Tengah.
Sebelum diterima di perguruan tinggi di Tiongkok, para peserta terlebih dahulu mengikuti program Karantina Bahasa Mandarin yang disiapkan secara intensif.
“Program pendampingan di PWNU Jateng dirancang untuk membekali peserta dengan kecakapan berbahasa Mandarin, kemampuan beradaptasi dengan budaya setempat, serta kesiapan akademik sebelum menempuh pendidikan tinggi di Tiongkok,” ungkap Fakhruddin, ditulis Selasa (25/8/2026).
Program tersebut memperlihatkan bahwa pengiriman kader ke luar negeri tidak berhenti pada pemberian akses beasiswa. Persiapan juga dilakukan agar peserta memiliki kemampuan yang dibutuhkan ketika memasuki lingkungan pendidikan internasional.
Gus Rozin menilai pendidikan harus menjadi salah satu instrumen utama dalam membangun kualitas kader NU. Menurutnya, kader muda Nahdliyin harus memiliki kemampuan yang tidak hanya relevan untuk kebutuhan organisasi dan masyarakat di tingkat lokal, tetapi juga mampu bersaing di tingkat internasional.
“Kader NU harus mendunia,” menjadi salah satu pesan yang ditekankan Gus Rozin dalam agenda pengembangan sumber daya manusia.
Menurut dia, kaderisasi NU harus mampu menjawab perubahan dunia yang semakin terbuka. Penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, bahasa asing dan kemampuan berinteraksi dengan masyarakat internasional menjadi bagian penting yang perlu disiapkan sejak dini.
Pengiriman delapan kader ke Tiongkok juga membuka peluang bagi NU Jawa Tengah untuk memperluas jejaring pendidikan internasional.
Para penerima beasiswa tersebut menempuh bidang studi yang beragam. Pilihan program pendidikan mereka mencakup teknik, perencanaan wilayah dan kota, teknologi, ilmu komputer, kedokteran, kesehatan pangan serta ekonomi internasional.
Delapan kader yang diberangkatkan adalah Suryono dari SMKS Ma'arif Karya Nugraha Boyolali yang melanjutkan pendidikan di Guangxi University pada bidang Electrical Engineering and Automation.
Kemudian Afrizal Robifatih Zakhan dari MA Nahdlatul Ulama Lasem yang diterima di Dalian University of Technology untuk bidang Urban and Rural Planning.
Selanjutnya Amhar Abimanyu dari LP Ma'arif NU Klaten yang menempuh Art & Technology di Dalian University of Technology.
Akhmad Khafidz Al Mubarak dari MAS Tahfidz Yanbu'ul Qur'an Kabupaten Kudus juga melanjutkan pendidikan di Dalian University of Technology pada bidang Computer Science and Technology.
Kader berikutnya, Annahdliyah dari SMA Ma'arif NU 1 Kemranjen, diterima di Shandong University of Traditional Chinese Medicine untuk bidang Food Hygiene Quality.
Putri Chanda Cantika dari LP Ma'arif NU Kebumen menempuh Clinical Medicine di universitas yang sama.
Sementara Danisy Ahza dan Lucky Lituhayu Al Fahrisi dari lingkungan LP Ma'arif NU Kudus melanjutkan pendidikan di Jiangxi University of Water Resources and Electric Power. Keduanya mengambil International Economics and Trade.
Dengan latar belakang pendidikan yang berbeda, kedelapan kader tersebut diharapkan dapat membawa pengalaman akademik dan pengetahuan baru ketika kembali ke Indonesia.
Bagi PWNU Jawa Tengah, keberangkatan mereka sekaligus menjadi investasi jangka panjang dalam pengembangan kader.
Program tersebut merupakan bagian dari prioritas penguatan kapasitas internasional LP Ma'arif NU Jawa Tengah yang dikembangkan sejak awal kepemimpinan Gus Rozin di PWNU Jawa Tengah.
Penguatan SDM ditempatkan bukan sekadar sebagai program pendidikan, tetapi sebagai bagian dari strategi membangun kader NU yang memiliki kapasitas global.
Kader yang memiliki pengalaman belajar di luar negeri diharapkan dapat menjadi jembatan antara NU dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan jaringan pendidikan internasional.
Selain memperoleh kompetensi akademik, para mahasiswa juga akan berhadapan langsung dengan lingkungan multikultural. Pengalaman tersebut diharapkan memperkuat kemampuan mereka dalam memahami perbedaan budaya dan membangun jejaring lintas negara.
Bagi Gus Rozin, investasi pendidikan seperti itu penting untuk mempersiapkan NU menghadapi tantangan masa depan.
Pengiriman kader ke Tiongkok juga menunjukkan bahwa lembaga pendidikan NU dapat membuka jalan bagi peserta didik untuk mengakses pendidikan internasional.
PWNU Jawa Tengah melalui LP Ma'arif NU berupaya membangun pola pendampingan dari tahap persiapan hingga keberangkatan.
Dengan delapan kader yang berangkat pada 2026, program tersebut menjadi salah satu contoh konkret agenda penguatan SDM yang dibawa dalam kepemimpinan Gus Rozin.
Mereka kini membawa nama lembaga pendidikan masing-masing sekaligus membawa pengalaman sebagai kader muda NU Jawa Tengah ke lingkungan akademik internasional.
Harapannya, pendidikan global tersebut tidak berhenti pada pencapaian individu, tetapi dapat menjadi modal untuk memperkuat masyarakat, pendidikan dan Nahdlatul Ulama ketika para kader kembali mengabdikan keilmuannya.