PBNU Ingatkan Peserta Muktamar NU ke-35 Tak Terjebak Hoaks, Jaga Persaudaraan

Reporter : Jatim Memanggil
Logo Muktamar ke-35 NU. (Jatim Memanggil/Ist)

JATIM MEMANGGIL - Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengingatkan seluruh peserta dan warga Nahdliyin agar tidak mudah percaya maupun ikut menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Imbauan tersebut disampaikan menyusul maraknya potongan berita dan komentar di media sosial yang dinilai tidak sesuai dengan fakta serta berpotensi memicu kegaduhan di lingkungan organisasi.

Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul meminta seluruh pihak menjaga suasana menjelang forum permusyawaratan tertinggi NU tersebut tetap tenang dan sejuk. Menurutnya, dinamika menjelang muktamar merupakan hal yang wajar, tetapi tidak boleh berubah menjadi pertikaian akibat informasi palsu yang beredar di ruang digital.

Baca juga: Gus Zaki: Muktamar NU Jangan Dikunci Paket, Peserta Harus Bebas Tentukan Pemimpin

“Di medsos itu banyak sekali komentar-komentar, potongan-potongan berita yang jauh dari kenyataan,” kata Gus Ipul di Jombang, Jumat (21/8/2026).

Ia berharap peserta Muktamar NU ke-35 memiliki sikap kritis dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang sumber maupun kebenarannya tidak jelas.

Peringatan tersebut menjadi penting karena arus informasi mengenai Muktamar NU semakin meningkat seiring semakin dekatnya pelaksanaan agenda tersebut.

Berbagai pernyataan, potongan video, unggahan media sosial, maupun informasi mengenai dinamika internal organisasi dapat dengan cepat menyebar dan membentuk persepsi publik sebelum kebenarannya dipastikan.

PBNU tidak merinci satu per satu isu yang disebut beredar di media sosial. Namun, Gus Ipul menegaskan bahwa terdapat informasi yang dinilai palsu, hoaks, bahkan mengarah pada fitnah yang berpotensi merusak citra dan persatuan jam’iyah Nahdlatul Ulama.

Karena itu, peserta muktamar diminta tidak menjadikan media sosial sebagai satu-satunya rujukan dalam memahami perkembangan organisasi. Setiap informasi yang berkaitan dengan keputusan, tahapan, kepesertaan, maupun dinamika Muktamar NU perlu diperiksa terlebih dahulu sebelum dipercaya atau diteruskan kepada orang lain.

Gus Ipul menilai persoalan informasi palsu tidak boleh dianggap sebagai masalah kecil. Jika informasi yang belum terverifikasi terus disebarluaskan, dampaknya dapat merembet pada hubungan antarwarga NU dan mengganggu suasana yang seharusnya dijaga menjelang forum besar organisasi.

Menurutnya, Muktamar NU ke-35 seharusnya menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai gagasan dan pandangan. Perbedaan pilihan maupun pendapat dalam forum organisasi tidak semestinya berubah menjadi permusuhan yang dipicu oleh informasi yang belum tentu benar.

Ia juga mengingatkan kembali pentingnya menjaga tradisi NU dalam menghormati ulama, kiai, dan guru. Menurut Gus Ipul, perbedaan pandangan boleh disampaikan, tetapi cara menyampaikannya harus tetap berada dalam koridor etika dan penghormatan terhadap sesama.

“Dari awal kita dididik untuk menghormati ulama, menghormati kiai, menghormati guru-guru kita,” ujarnya.

Ia menilai munculnya pernyataan yang merendahkan atau menyerang ulama menjadi sesuatu yang perlu dihindari karena tidak sejalan dengan tradisi pendidikan yang selama ini melekat kuat dalam kultur NU.

Gus Ipul menyebut sebagian pihak di lingkungan ulama mulai memberikan pernyataan yang dinilai tidak semestinya.

Karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk mampu mengendalikan diri, terutama ketika menyampaikan pandangan di ruang publik dan media sosial.

Menurutnya, perbedaan pendapat tetap diperlukan dalam sebuah organisasi besar. Namun, perbedaan tersebut harus ditempatkan sebagai bagian dari proses musyawarah untuk menghasilkan keputusan terbaik bagi jam’iyah, bukan sebagai alasan untuk saling menjatuhkan.

Peringatan mengenai hoaks juga disampaikan ketika persiapan teknis dan konseptual Muktamar NU ke-35 disebut telah memasuki tahap akhir.

Baca juga: Sarung Mangga Dukung Muktamar NU ke-35 di Jombang, Dorong Tradisi Bersarung Tetap Hidup

Gus Ipul menyatakan persiapan muktamar dari sisi teknis maupun konsep telah tuntas sehingga seluruh pihak kini dapat memusatkan perhatian pada pelaksanaan forum.

Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Forum tersebut merupakan musyawarah tertinggi NU yang akan mempertemukan utusan dari berbagai wilayah dan cabang untuk membahas arah organisasi sekaligus kepengurusan periode mendatang.

Besarnya skala muktamar membuat dinamika informasi diperkirakan semakin meningkat. Peserta dan warga NU dari berbagai daerah akan berinteraksi secara langsung maupun melalui platform digital sehingga informasi mengenai setiap perkembangan muktamar berpotensi menyebar dalam waktu singkat.

Dalam situasi seperti itu, kemampuan peserta memilah informasi menjadi semakin penting. Informasi yang berasal dari sumber resmi organisasi perlu dibedakan dengan opini pribadi, potongan pernyataan, unggahan anonim, maupun narasi yang sengaja dibuat untuk membangun persepsi tertentu.

PBNU juga tengah menyelesaikan berbagai persiapan administratif menjelang pelaksanaan muktamar. Sebelumnya, PBNU telah merilis Daftar Peserta Sementara tahap pertama yang mencatat 501 struktur kepengurusan NU, terdiri atas 31 PWNU, 456 PCNU, dan 14 PCINU.

Data kepesertaan tersebut juga menunjukkan bahwa proses menuju muktamar melibatkan tahapan organisasi yang cukup kompleks. PBNU memberikan ruang kepada struktur NU di daerah untuk mencermati dan mengoreksi data sebelum dilakukan proses validasi lebih lanjut.

Di tengah proses tersebut, munculnya informasi yang tidak benar berpotensi menimbulkan kesalahpahaman baru. Karena itu, komunikasi yang terbuka dan penggunaan sumber informasi yang dapat dipertanggungjawabkan menjadi penting agar persoalan administratif maupun dinamika organisasi tidak berkembang menjadi polemik yang tidak perlu.

Baca juga: DPT Muktamar NU ke-35 Nyaris Rampung, Panitia: Tinggal 5 Persen Lagi

Gus Ipul juga mengingatkan bahwa suasana muktamar harus tetap mencerminkan karakter NU yang mengedepankan persaudaraan. Kontestasi dan perbedaan pandangan merupakan bagian dari dinamika organisasi, tetapi keduanya harus tetap berjalan dalam suasana yang menghormati nilai-nilai ke-NU-an.

Ia tidak menyebut secara spesifik siapa atau kelompok mana yang menjadi sasaran imbauan tersebut. Menurutnya, persoalan hoaks dan informasi palsu merupakan tanggung jawab bersama sehingga seluruh elemen NU harus mengambil bagian dalam mencegah penyebarannya.

Sikap tersebut juga sejalan dengan seruan sejumlah kiai sepuh NU yang sebelumnya meminta agar seluruh pihak menjaga marwah dan keluhuran Muktamar ke-35. Situs resmi Muktamar NU mencatat seruan agar forum tersebut berlangsung dengan baik, jujur, adil, dan berakhlakul karimah.

Bagi PBNU, keberhasilan muktamar tidak hanya diukur dari kelancaran teknis penyelenggaraan. Suasana batin peserta, kualitas musyawarah, kemampuan mengelola perbedaan, serta terjaganya persaudaraan juga menjadi bagian penting dari keberhasilan forum tersebut.

Karena itu, peserta muktamar diharapkan tidak mudah terseret oleh isu yang beredar di media sosial. Setiap informasi yang berpotensi menimbulkan keresahan sebaiknya diverifikasi terlebih dahulu agar tidak menjadi bahan yang memperkeruh suasana.

Muktamar NU ke-35 akan berlangsung di Tambakberas pada 27-31 Agustus 2026 dengan membawa agenda besar bagi perjalanan organisasi. Forum tersebut diharapkan mampu menghasilkan keputusan strategis dan merumuskan arah perjuangan NU untuk lima tahun mendatang.

Di tengah persaingan dan perbedaan gagasan yang mengiringi proses menuju muktamar, pesan menjaga kesejukan menjadi semakin relevan. Sebab, apa pun hasil forum nantinya, seluruh elemen NU akan kembali berada dalam satu rumah besar yang sama.

PBNU berharap seluruh rangkaian Muktamar NU ke-35 dapat berlangsung tertib, damai, dan penuh persaudaraan. Peserta juga diminta menempatkan kepentingan jam’iyah di atas kepentingan kelompok maupun kepentingan pribadi agar muktamar benar-benar menghasilkan keputusan yang membawa kemaslahatan bagi NU dan masyarakat luas.

Editor : Ahmad Adirin

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru