JATIM MEMANGGIL - Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, tidak hanya menjadi momentum penting bagi perjalanan organisasi. Perhelatan besar warga Nahdliyin itu juga menjadi ruang untuk meneguhkan kembali berbagai tradisi yang selama ini melekat kuat dalam kehidupan pesantren, salah satunya budaya bersarung.

Tradisi tersebut mendapat perhatian dari Sarung Mangga yang menyatakan dukungan terhadap pelaksanaan Muktamar NU ke-35. Produsen busana muslim tersebut melihat sarung bukan semata produk sandang, tetapi bagian dari identitas kultural masyarakat Nahdliyin yang terus diwariskan lintas generasi.

Bagi masyarakat pesantren, sarung telah menjadi bagian dari keseharian. Pakaian tersebut digunakan dalam berbagai aktivitas, mulai dari mengaji, beribadah, menerima tamu, menghadiri pengajian, hingga mengikuti berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.

Karena itu, kehadiran Sarung Mangga dalam momentum Muktamar NU ke-35 diposisikan sebagai bentuk kedekatan dengan kultur pesantren.

Dukungan tersebut sekaligus menjadi upaya untuk menjaga agar tradisi bersarung tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman dan perkembangan gaya hidup masyarakat.

Manager Marketing Sarung Mangga, Wafi Basyarahil, mengatakan pihaknya ingin terus berada dekat dengan masyarakat Nahdliyin.

Menurutnya, berbagai momentum penting warga Nahdliyin menjadi bagian dari ruang bagi Sarung Mangga untuk memperkuat hubungan dengan komunitas yang selama ini dekat dengan tradisi bersarung.

“Sarung Mangga ingin hadir di setiap momen penting masyarakat,” ujar Wafi Basyarahil dalam keterangan resminya, ditulis Sabtu (22/8/2026).

Wafi menilai pesantren merupakan salah satu lingkungan utama tempat budaya bersarung terus dipelihara. Tradisi tersebut tidak sekadar bertahan sebagai kebiasaan berpakaian, tetapi juga menjadi bagian dari identitas dan kehidupan sosial warga pesantren.

Menurutnya, hubungan antara sarung dan pesantren memiliki sejarah panjang. Dari lingkungan pesantren, tradisi mengenakan sarung kemudian berkembang luas dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Nahdliyin di berbagai daerah.

“Kami bangga bisa bercerita langsung dari pesantren,” kata Wafi.

Ia menambahkan, setiap helai sarung memiliki cerita yang berkaitan dengan tradisi, kebersamaan, dan kebanggaan masyarakat.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa Sarung Mangga tidak hanya melihat sarung dari sisi industri fesyen. Produk tersebut juga ditempatkan sebagai bagian dari budaya yang memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat pesantren dan warga NU.

Kehadiran Sarung Mangga dalam Muktamar NU ke-35 sekaligus mempertemukan unsur ekonomi dengan tradisi sosial keagamaan.

Bagi perusahaan, kedekatan dengan pesantren menjadi bagian dari upaya mempertahankan relevansi produk sekaligus menjaga hubungan dengan konsumen yang tumbuh dari kultur tersebut.

Muktamar NU ke-35 sendiri menjadi momentum besar yang mempertemukan warga Nahdliyin dari berbagai daerah.

Para peserta, pengurus, ulama, serta tokoh NU akan berkumpul di Tambakberas untuk mengikuti rangkaian agenda organisasi yang berlangsung pada 27-31 Agustus 2026.

Di tengah forum sebesar itu, simbol-simbol tradisi NU juga kembali mendapatkan ruang. Sarung menjadi salah satu simbol yang mudah ditemui dalam kehidupan warga Nahdliyin dan lingkungan pesantren.

Sekretaris Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Khumaidi Abdillah atau Gus Khumed, mengapresiasi keterlibatan Sarung Mangga dalam momentum tersebut.

Ia menilai dukungan dari pihak yang memiliki kedekatan dengan budaya pesantren menjadi energi positif bagi pelaksanaan muktamar.

“Sarung sudah menjadi bagian dari identitas harian santri,” ujar Gus Khumed. Menurutnya, tradisi tersebut juga melekat dalam kehidupan masyarakat Nahdliyin secara luas.

Gus Khumed yang juga menjabat sebagai Sekretaris Panitia Lokal Muktamar NU ke-35 menilai hubungan antara sarung, pesantren, dan warga NU sudah terbentuk dalam perjalanan panjang.

Karena itu, dukungan terhadap budaya bersarung dinilai relevan dengan semangat menjaga tradisi yang berkembang di lingkungan Nahdliyin.

Ia juga melihat Sarung Mangga memiliki rekam jejak kedekatan dengan kalangan pesantren dan para kiai. Keterlibatan dalam Muktamar NU ke-35 pun dinilai dapat menjadi momentum untuk memperluas silaturahmi dengan warga Nahdliyin yang datang dari berbagai wilayah Indonesia.

“Ini langkah yang sangat tepat,” katanya. Ia berharap hubungan tersebut dapat semakin mempererat silaturahmi antara Sarung Mangga dengan masyarakat Nahdliyin.

Bagi masyarakat pesantren, menjaga tradisi tidak berarti menutup diri dari perubahan. Tradisi justru dapat terus hidup apabila mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai yang menjadi akar keberadaannya.

Hal tersebut juga berlaku pada sarung. Pakaian yang dahulu sangat identik dengan lingkungan pesantren kini telah berkembang menjadi bagian dari busana masyarakat muslim secara lebih luas, termasuk generasi muda.

Perkembangan model, motif, bahan, dan desain membuat sarung tidak lagi hanya digunakan untuk kegiatan keagamaan. Sarung juga semakin mudah ditemui dalam berbagai kegiatan sosial dan budaya masyarakat.

Namun, perkembangan tersebut tetap membutuhkan upaya untuk menjaga identitas kulturalnya. Hubungan dengan pesantren dan komunitas Nahdliyin menjadi salah satu cara agar sarung tetap memiliki akar sejarah sekaligus mampu mengikuti perkembangan kebutuhan masyarakat.

Dalam konteks Muktamar NU ke-35, dukungan terhadap budaya bersarung memiliki makna yang lebih luas. Momentum tersebut menjadi kesempatan untuk memperlihatkan bahwa tradisi yang hidup di tengah pesantren masih memiliki relevansi di tengah kehidupan masyarakat modern.

Kehadiran berbagai pihak dalam muktamar juga memperlihatkan luasnya ekosistem NU. Tidak hanya organisasi dan pesantren, tetapi juga masyarakat, pelaku usaha, komunitas, serta berbagai elemen yang memiliki hubungan dengan kehidupan warga Nahdliyin ikut mengambil bagian.

Sarung Mangga memilih mengambil ruang melalui dukungan terhadap kegiatan yang berlangsung di lingkungan pesantren. Komitmen tersebut diarahkan untuk menjaga kedekatan dengan masyarakat sekaligus memperkuat posisi budaya bersarung sebagai bagian dari identitas sosial warga Nahdliyin.

Gus Khumed berharap komitmen tersebut tidak berhenti pada momentum Muktamar NU ke-35. Ia ingin hubungan Sarung Mangga dengan pesantren terus dipertahankan dan dikembangkan pada masa mendatang.

“Semoga Sarung Mangga terus berkembang,” ujarnya. Ia juga berharap perusahaan tersebut tetap dekat dengan pesantren dan konsisten membawa semangat kebanggaan terhadap budaya bersarung.

Muktamar NU ke-35 di Tambakberas pada akhirnya tidak hanya menjadi arena pembahasan agenda organisasi. Momentum tersebut juga menjadi pertemuan berbagai unsur yang selama ini tumbuh bersama dalam ekosistem Nahdlatul Ulama.

Di tengah perkembangan zaman, tradisi seperti bersarung menjadi bagian dari identitas yang terus dipertahankan. Ketika tradisi tersebut mendapat ruang dalam momentum besar seperti Muktamar NU, pesan yang muncul bukan sekadar soal pakaian, melainkan tentang bagaimana warisan budaya pesantren tetap hidup dan dikenali generasi berikutnya.

Bagi Sarung Mangga, dukungan terhadap Muktamar NU ke-35 menjadi bagian dari komitmen untuk tetap dekat dengan masyarakat. Sementara bagi lingkungan pesantren, keterlibatan tersebut menjadi salah satu bentuk kolaborasi dalam menjaga tradisi yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan Nahdliyin.

Muktamar NU ke-35 pun semakin dekat. Di tengah agenda organisasi dan dinamika kepemimpinan yang akan menjadi perhatian utama, tradisi bersarung tetap menjadi salah satu wajah kultural yang melekat pada perhelatan besar warga Nahdliyin di Tambakberas.