Marhaban Ya Ramadan, Bulan Medan Jihad Kaum Beriman

Advertisement

JATIM MEMANGGIL – Setelah pulang dari sebuah perang, Nabi Muhammad bersabda kepada sahabatnya “kita baru saja pulang dari jihad kecil, menuju jihad besar” dalam redaksi lain dikatakan “kalian baru saja pulang dari jihad kecil menuju jihad besar” lalu para sahabatnya bertanya “apa itu jihad besar?” lalu rasulullah menjawab “memerangi hawa nafsu”. Ada dua hal penting yang perlu digaris bawahi yaitu jihad kecil atau perang melawan musuh, lalu jihad besar yang berarti melawan nafsu. Jihad melawan diri sendiri merupakan jihad yang akan selalu relevan dalam berbagai situasi dan kondisi. Sebab ketika orang sudah mampu mengatasi hawa nafsunya tentu akan bisa mengatasi orang sekitarnya.

Ibnul Qoyyim Al jauzi menyebutkan ada empat jihad yaitu : melawan nafsu, melawan setan, melawan orang kafir dan munafik, dan melawan orang zalim dan fasik. Baginya tidak ada kebahagiaan yang sempurna baik di dunia maupun akhirat kecuali merengkuh hidayah dan kebenaran agama. Ulama itu menempatkan kebahagiaan yang sempurna baik di dunia maupun akhirat dalam ranah jihad melawan diri sendiri.

MARHABAN YA RAMADHAN!

Percakapan antara Allah dan nafsu yang terekam dalam kitab Tanbihul Ghafilin dan Durratun Nashihin, menyebutkan bahwa nafsu baru mau bersimpuh kepada Allah setelah dimasukkan ke dalam neraka juwaini dalam keadaan dingin dan lapar. Dari cerita tersebut dapat disimpulkan bahwa salah satu cara melawan nafsu adalah dengan cara “puasa” atau melaparkan diri. Puasa sendiri bukanlah sesuatu yang asing dalam agama lain, beberapa agama mengenal konsep puasa. Bahkan dalam masyarakat jawa sudah mengenal tirakat, bertapa, semedi yang semuanya memiliki esensi yang sama dengan puasa, yaitu menahan nafsu.

Secara teologis, surat al Baqarah ayat 183 menjelaskan bahwa  puasa memiliki maksud agar manusia itu bertaqwa, ketakwaan manusia dapat diukur dari bagaimana ia menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dengan melatih menahan dari segala hal yangs sebenarnya diperbolehkan oleh syara, sembari menjalankan perintahnya maka diharapkan manusia tersebut akan lebih ringan menjauhi yang secara syara sudah dilarang sedari awal.

Kemudian Filosofi dari puasa sendiri adalah, manusia menahan diri dari hal yang sebetulnya boleh untuk ia lakukan, seperti makan, minum, jima dan lain sebagainya. Dengan menahan makan dan minum makan muncul empati kepada orang tidak selalu bisa makan setiap hari, dengan menahan untuk jima akan muncul empati kepada orang yang tidak memiliki pasangan namun masih berusaha menahan nafsunya itu. Oleh sebab itu melalui konsep ini maka diharapkan muncul tenggang rasa, dan dari sini kemudian muncul sama rasa, yang itu berhilir pada pembangunan solidaritas sosial atau tali ukhuwah.

Filosofi lain dari puasa sebenarnya sudah terekam dalam adagium “berakit-rakit ke hulu, berenang ketepian”. Ini menunjukkan bahwa hidup ini merupakan perjuangan. Manusia dalam meraih sesuatu harus fokus dan disiplin dalam menahan diri godaan-godaan yang sebetulnya diperbolehkan oleh agama, namun harus dibatasi. Misal seseorang yang ingin mendaftar menjadi polisi maka dalam rangka membentuk fisik, maka dia harus berpuasa pada makanan (yang sebetulnya boleh) yang berpotensi membuat dia kelebihan berat badan. Sehingga nanti ketika nanti ketika berhasil menjadi seorang polisi maka dia benar-benar bahagia dan mendapatkan makna sejati dari arti perjuangan itu sendiri, sebagaimana bahagianya seorang yang sedang berpuasa ketika ia mendengar adzan magrib.

Dalam ajaran agama islam sendiri, puasa disyariatkan mulai tahun kedua hijriyah. Yang dimaksud disini adalah puasa Ramadhan. Ramadhan sendiri memiliki arti terbakar, ada beberapa hal yang mendasari penamaan tersebut antara lain: karena terbakarnya dosa, karena panasnya terik matahari pada masa itu, karena panasnya perut karena puasa. Jika kita mengambil pada frasa yang pertama maka wajar kalua Ramadhan dianggap sebagai terbakarnya dosa, sebab bulan itu merupakan “sayyidul-syuhur (penghulu bagi bulan-bulan lainnya)” sehingga tidak mengherankan kalua kemudian banyak sekali keutamaan-keutamaan di bulan Ramadhan.

Jika dipecah menjadi tiga maka 10 hari pertama merupakan rahmat, 10 hari kedua adalah maghfirah, dan 10 terakhir merupakan pembebasan dari api neraka. Di bulan Ramadhan pula setan-setan dibelenggu, pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup, setiap amal dilipatgandakan, dan yang lebih membahagiakan lagi adalah munculnya lailatul qadr atau malam yang lebih utama dari malam 1000 bulan. Bahkan sangking utamanya bulan Ramadhan, kemudian siapapun yang bahagia dengan datangnya bulan ramadhan maka Allah mengharam neraka untuk menyentuh jasadnya. Oleh sebab itu tidak mengherankan kalua kemudian Nabi Muhammad bersabda : Seandainya umat manusia mengetahui pahala ibadah di bulan ramadhan, maka niscaya mereka akan meminta agar satu tahun penuh menjadi ramadhan.” (HR. Thabrani, Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi).

Keutamaan-keutamaan puasa dan Ramadhan diatas masih secuil dari selaksa rahasia tentang keutamaan puasa puasa dan Ramadhan. Oleh sebab itu di akhir tulisan ini, penulis ingin menyampaikan marhaban ya Ramadhan! marhaban ya Ramadhan! marhaban ya Ramadhan! untuk setiap Ramadhan yang datang setiap tahun ila yaumil qiyamah. Wallahu a’lam bish shawab.

 

 

Penulis : Mohammad Afin Masrja S.H.I Guru MAN 2 Kota Kedi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button