Dari Bangkalan, Gus Rozin Terima Sorban Syaikhona Kholil Jelang Muktamar NU

Reporter : Jatim Memanggil
KH Muhammad Faishol Anwar, salah satu sesepuh Bani Syaikhona Kholil Bangkalan memberikan sorban Gus Rozin. (Istimewa)

JATIM MEMANGGIL - Rangkaian silaturahmi KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama berlanjut di Bangkalan, Madura. Pada Ahad (23/8/2026), Gus Rozin sowan kepada KH Muhammad Faishol Anwar, salah satu sesepuh Bani Syaikhona Kholil Bangkalan.

Pertemuan tersebut berlangsung setelah Gus Rozin berdialog dengan jajaran pengurus NU se-Madura. Dalam kesempatan itu, KH Faishol yang juga Rais Syuriyah PCNU Bangkalan mengalungkan sorban hijau bercorak keemasan kepada Gus Rozin.

Baca juga: Gus Rozin: Kader NU Harus Mendunia, Delapan Kader Jateng Diberangkatkan Kuliah ke Tiongkok

Sorban tersebut menjadi bagian paling menonjol dalam pertemuan yang berlangsung tanpa seremoni panjang.

Saat KH Faishol mengalungkan sorban, Gus Rozin menundukkan kepala. Prosesi berlangsung singkat.

“Nggih, nggih. Bismillah... Alhamdulillah,” ucap KH Faishol.

KH Faishol merupakan cicit Syaikhona Kholil Bangkalan dan pengasuh Pondok Pesantren Al Kholiliyah An Nuroniyah. Ia juga dikenal sebagai salah satu sesepuh Bani Syaikhona Kholil.

Pertemuan itu berlangsung dalam suasana akrab. Sebelum pengalungan sorban, Gus Rozin duduk bersila di atas karpet menghadap KH Faishol. Beberapa orang berada di sekitar keduanya.

Tidak ada pidato maupun agenda formal. Percakapan berlangsung dari jarak dekat hingga kemudian Gus Rozin diajak masuk ke ruangan yang menyimpan sejumlah benda lama.

Di ruangan tersebut terdapat sebuah peti kayu tua yang bentuknya menyerupai koper zaman dahulu.

KH Faishol menunjuk benda tersebut sembari menjelaskan bahwa koper itu merupakan benda lama.

“Koper... koper biyen niki,” kata KH Faishol.

Pada bagian luar koper terdapat tulisan yang kemudian diperhatikan oleh orang-orang yang hadir.

“Ada tulisan ‘KH. Khalil’,” ujar salah seorang yang hadir.

“Nggih, K.H. Khalil,” jawab KH Faishol.

Pembicaraan kemudian berkembang mengenai kemungkinan kaitan koper tersebut dengan perjalanan Syaikhona Kholil ke Makkah pada masa lalu.

Namun, KH Faishol tidak menyebutkan tahun pasti penggunaan koper tersebut.

Baca juga: PWNU Jateng Kirim 8 Kader Kuliah ke Tiongkok, Program Dimulai dari Karantina Mandarin

“Waktu teng Makkah tahun pinten kirang-kirang... mboten wonten keterangan,” tuturnya.

Gus Rozin tampak lebih banyak menyimak. Ia memperhatikan benda tersebut sambil mendengarkan penjelasan dari KH Faishol.

Suasana sederhana itu menjadi bagian penting dari perjalanan silaturahmi Gus Rozin di Madura.

Nama Syaikhona Kholil sendiri memiliki tempat penting dalam sejarah jaringan keulamaan Nusantara. Ulama asal Bangkalan tersebut dikenal sebagai salah satu tokoh besar dalam tradisi pesantren dan mata rantai keilmuan ulama Nusantara.

Jejak keilmuan Syaikhona Kholil juga memiliki hubungan erat dengan sejarah lahir dan berkembangnya Nahdlatul Ulama. Karena itu, pertemuan dengan keturunan dan keluarga Syaikhona Kholil membawa konteks sejarah yang kuat, terutama ketika dilakukan menjelang forum tertinggi organisasi.

Bagi Gus Rozin, silaturahmi kepada para ulama dan sesepuh menjadi bagian dari rangkaian ikhtiar menjelang Muktamar ke-35 NU.

Sebelumnya, Gus Rozin bertemu dengan pengurus NU se-Madura di Bangkalan. Forum tersebut menjadi ruang untuk berdialog mengenai kondisi organisasi serta mendengarkan pandangan mengenai masa depan Nahdlatul Ulama.

Setelah agenda bersama jajaran NU tersebut selesai, Gus Rozin melanjutkan sowan kepada KH Faishol.

Baca juga: 8 Kader NU Jateng Kuliah di Tiongkok, Gus Rozin Dorong Kader NU Berkiprah di Dunia

Pengalungan sorban berlangsung dalam rangkaian pertemuan tersebut. Setelahnya, Gus Rozin diajak melihat benda lama yang tersimpan di lingkungan keluarga Syaikhona Kholil.

Momen tersebut memperlihatkan dua sisi dari perjalanan Gus Rozin di Bangkalan. Di satu sisi, ia berdialog dengan struktur organisasi NU mengenai masa depan jam'iyyah. Di sisi lain, ia sowan kepada sesepuh keluarga ulama yang memiliki akar sejarah kuat dalam tradisi pesantren dan NU.

Rangkaian tersebut berlangsung beberapa hari sebelum Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Dalam suasana menuju muktamar, pertemuan Gus Rozin dengan KH Faishol berlangsung tanpa panggung dan tanpa pidato politik organisasi. Yang terlihat justru percakapan sederhana, penghormatan kepada sesepuh, pengalungan sorban dan cerita mengenai benda lama yang masih dirawat keluarga.

Sorban yang dikalungkan KH Faishol kemudian menjadi simbol dari pertemuan tersebut.

Sementara koper tua bertuliskan “KH. Khalil” menjadi pengingat bahwa di balik dinamika organisasi menjelang muktamar, terdapat mata rantai sejarah panjang pesantren dan keulamaan yang terus menjadi bagian dari perjalanan Nahdlatul Ulama.

Dari Bangkalan, Gus Rozin melanjutkan rangkaian silaturahmi menjelang Muktamar ke-35. Sowan kepada sesepuh Bani Syaikhona Kholil menjadi salah satu bagian dari perjalanan tersebut.

Editor : Ahmad Adirin

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru