JATIM MEMANGGIL - Pesantren menjadi salah satu isu utama yang dibawa KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin dalam bursa pencalonan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Bagi Gus Rozin, penguatan pesantren bukan agenda yang baru muncul menjelang Muktamar ke-35 NU, melainkan bagian dari perjalanan khidmahnya selama bertahun-tahun.

Pengasuh Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, Jawa Tengah, tersebut memiliki rekam jejak panjang dalam organisasi dan kelembagaan yang berkaitan dengan pesantren. Pengalaman itu antara lain dijalani melalui Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama (LP Ma'arif), Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) NU, hingga Majelis Masyayikh.

Gus Rozin pernah dipercaya sebagai Wakil Ketua LP Ma'arif PBNU periode 2010-2013. Setelah itu, ia menjadi Ketua RMI NU Jawa Tengah periode 2013-2015 sebelum dipercaya memimpin RMI PBNU periode 2015-2021.

Keterlibatan tersebut membuat Gus Rozin bersentuhan langsung dengan persoalan yang dihadapi pesantren, mulai dari pendidikan, kaderisasi santri, penguatan kelembagaan hingga kebutuhan pesantren beradaptasi dengan perubahan zaman.

Dalam pandangannya, pesantren mempunyai posisi strategis bagi masa depan NU.

“Pesantren adalah jantung Nahdlatul Ulama. Dari sanalah ulama dilahirkan, kader ditempa, dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama'ah diwariskan,” kata Gus Rozin, ditulis Selasa (25/8/2026).

Menurut dia, pesantren tidak cukup diperkuat melalui pembangunan fisik. Pengembangan sumber daya manusia, tata kelola, pendidikan, teknologi dan kemandirian ekonomi juga menjadi bagian penting yang harus mendapat perhatian.

“Pesantren harus mampu menjawab tantangan zaman, tetapi pada saat yang sama tidak kehilangan karakter dan tradisi keilmuannya. Karena itu, penguatan pesantren harus dilakukan secara menyeluruh,” ujarnya.

Selama berada di lingkungan RMI, sejumlah agenda yang berkaitan dengan penguatan pesantren dan santri menjadi bagian dari kiprahnya. Di antaranya pengawalan lahirnya Undang-Undang Pesantren pada 2014-2019, Liga Santri Nasional, Gerakan Ayo Mondok, Hari Santri Nasional serta Apel Akbar Santri Nusantara.

Selain itu, terdapat pula sejumlah program yang menyentuh kehidupan pesantren, seperti Gerakan Pesantrenku Bersih, Pesantren Keren, Satkor Covid RMI PBNU, Kado Lebaran untuk Guru Ngaji, Gerakan Pesantren Asuh bagi Anak Yatim Indonesia serta program beasiswa LPDP bagi santri.

“Penguatan pesantren bukan pekerjaan yang bisa selesai dalam satu periode. Ini merupakan proses panjang yang membutuhkan kesinambungan, kolaborasi dan komitmen bersama,” kata Gus Rozin.

Keterlibatannya di dunia pesantren kemudian berlanjut melalui posisi sebagai Ketua Majelis Masyayikh. Peran tersebut memperluas pengalaman Gus Rozin dalam persoalan mutu, tata kelola dan pengembangan pendidikan pesantren.

Pengalaman panjang tersebut menjadi salah satu landasan ketika Gus Rozin menawarkan gagasan penguatan pesantren dalam pencalonannya sebagai Ketua Umum PBNU.

Ia menilai masa depan NU tidak bisa dipisahkan dari keberlangsungan pesantren. Sebab, pesantren bukan hanya tempat pendidikan agama, tetapi juga menjadi ruang kaderisasi ulama dan pembentukan karakter generasi NU.

Pandangan itu kembali mengemuka ketika Gus Rozin bertemu jajaran NU di Nanggroe Aceh Darussalam pada 19 Agustus 2026. Dalam pertemuan bersama PWNU dan PCNU se-NAD tersebut, muncul penekanan agar pembangunan NU tetap bertumpu pada akar utamanya, yakni pesantren.

Pertanyaan mengenai komitmen konkret terhadap pesantren juga disampaikan dalam forum tersebut apabila Gus Rozin memperoleh amanah memimpin PBNU.

Ketua Tanfidziyah PWNU Aceh, Tengku Haji Faisal Ali, menilai pengalaman Gus Rozin di dunia pesantren menjadi modal penting. Menurutnya, Gus Rozin memiliki pengalaman sebagai pimpinan pondok pesantren sekaligus pernah berada dalam berbagai organisasi yang berkaitan dengan pendidikan dan kepesantrenan.

Pengalaman tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan pesantren yang semakin kompleks. Pesantren saat ini tidak hanya menghadapi persoalan pendidikan, tetapi juga membutuhkan penguatan kelembagaan, ekonomi, sumber daya manusia dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Gus Rozin berpandangan, pesantren juga perlu dibangun dalam sebuah ekosistem yang memungkinkan terjadinya pertukaran pengalaman antarlembaga.

“Kita harus membangun ekosistem. Kekuatan yang sudah dimiliki satu pesantren atau satu cabang harus bisa menjadi kekuatan bagi yang lain. Dengan begitu, pesantren tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling belajar dan saling menguatkan,” tuturnya.

Menurut dia, pola tersebut penting terutama bagi pesantren yang berada di wilayah dengan keterbatasan akses terhadap sumber daya. Pesantren di daerah pedalaman maupun luar Jawa, kata dia, membutuhkan pendampingan agar mampu berkembang secara berkelanjutan.

Gus Rozin juga mengaitkan penguatan pesantren dengan agenda membangun NU dari bawah.

“Kalau kita ingin membesarkan NU, maka yang harus diperkuat adalah kemampuan jamaah. Jamaah harus mampu membangun dan mengembangkan pesantren, sekolah, rumah sakit, usaha dan berbagai lembaga yang manfaatnya bisa dirasakan masyarakat,” katanya.

Dalam konteks pencalonan Ketua Umum PBNU, rekam jejak tersebut menjadi bagian dari tawaran Gus Rozin kepada para muktamirin. Ia membawa pengalaman panjang di dunia pesantren, mulai dari LP Ma'arif, RMI, hingga Majelis Masyayikh.

Menjelang Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026, pesantren ditempatkan Gus Rozin bukan sekadar sebagai salah satu program organisasi.

Pesantren dipandang sebagai akar kaderisasi, pusat pendidikan dan bagian penting dari keberlanjutan tradisi keilmuan Nahdlatul Ulama.