JATIM MEMANGGIL - Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin menawarkan penguatan pesantren sebagai salah satu agenda penting dalam arah kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Bagi Gus Rozin, pesantren tidak seharusnya ditempatkan hanya sebagai salah satu sektor pendidikan yang berada di bawah perhatian organisasi. Pesantren merupakan bagian dari akar sejarah, kaderisasi dan keberlangsungan tradisi keilmuan Nahdlatul Ulama.

“Pesantren adalah jantung Nahdlatul Ulama. Dari sanalah ulama dilahirkan, kader ditempa, dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama'ah diwariskan,” kata Gus Rozin, ditulis Selasa (25/8/2026). 

Karena itu, penguatan pesantren menurut dia harus menyentuh berbagai aspek. Mulai dari kualitas pendidikan, sumber daya manusia, tata kelola, teknologi hingga kemandirian ekonomi.

Ia menilai pesantren menghadapi tantangan yang semakin beragam. Di satu sisi, pesantren dituntut mampu mengikuti perkembangan zaman. Namun di sisi lain, karakter dan tradisi keilmuan yang menjadi identitas pesantren tetap harus dipertahankan.

“Pesantren harus mampu menjawab tantangan zaman, tetapi pada saat yang sama tidak kehilangan karakter dan tradisi keilmuannya. Karena itu, penguatan pesantren harus dilakukan secara menyeluruh,” ujarnya.

Gus Rozin memiliki alasan kuat ketika menjadikan pesantren sebagai salah satu isu utama dalam pencalonannya sebagai Ketua Umum PBNU. Ia sendiri merupakan pengasuh Pesantren Maslakul Huda-Kajen, Pati, Jawa Tengah, sekaligus memiliki pengalaman panjang dalam organisasi yang berkaitan dengan pesantren.

Ia pernah menjadi Wakil Ketua LP Ma'arif PBNU periode 2010-2013. Setelah itu, Gus Rozin dipercaya menjadi Ketua RMI NU Jawa Tengah periode 2013-2015 dan Ketua RMI PBNU periode 2015-2021.

Dalam perjalanan tersebut, sejumlah program dan gerakan yang berkaitan dengan pesantren dan santri menjadi bagian dari kiprahnya. Di antaranya pengawalan lahirnya Undang-Undang Pesantren pada 2014-2019, Liga Santri Nasional, Gerakan Ayo Mondok, Hari Santri Nasional dan Apel Akbar Santri Nusantara.

Program lain yang turut disebut dalam perjalanan khidmahnya antara lain Gerakan Pesantrenku Bersih, Pesantren Keren, Satkor Covid RMI PBNU, Kado Lebaran untuk Guru Ngaji, Gerakan Pesantren Asuh bagi Anak Yatim Indonesia dan program beasiswa LPDP bagi santri.

Pengalaman itu kemudian diperluas melalui keterlibatan sebagai Ketua Majelis Masyayikh. Dengan peran tersebut, Gus Rozin turut bersentuhan dengan persoalan mutu, tata kelola dan pengembangan pendidikan pesantren.

“Penguatan pesantren bukan pekerjaan yang bisa selesai dalam satu periode. Ini merupakan proses panjang yang membutuhkan kesinambungan, kolaborasi dan komitmen bersama,” katanya.

Isu tersebut juga mengemuka dalam pertemuan Gus Rozin dengan jajaran NU di Nanggroe Aceh Darussalam pada 19 Agustus 2026.

Dalam pertemuan bersama PWNU dan PCNU se-NAD, Rais Syuriyah PCNU Aceh Tengah menekankan pentingnya pembangunan NU yang tetap bertumpu pada pesantren sebagai akar utama.

Pertemuan tersebut juga menjadi ruang untuk mempertanyakan bagaimana komitmen konkret Gus Rozin terhadap pengembangan pesantren jika mendapat amanah memimpin PBNU.

Ketua Tanfidziyah PWNU Aceh, Tengku Haji Faisal Ali, menilai pengalaman Gus Rozin di dunia pesantren menjadi salah satu kekuatan. Ia memiliki pengalaman sebagai pimpinan pondok pesantren sekaligus pernah memimpin organisasi yang berkaitan dengan pendidikan dan kepesantrenan.

Bagi Gus Rozin, penguatan pesantren juga tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yang seragam. Setiap pesantren memiliki karakter, kebutuhan dan tingkat perkembangan yang berbeda.

Karena itu, ia menawarkan penguatan berbasis ekosistem. Pesantren yang telah memiliki keunggulan dalam bidang tertentu diharapkan dapat berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan pesantren lain.

“Kita harus membangun ekosistem. Kekuatan yang sudah dimiliki satu pesantren atau satu cabang harus bisa menjadi kekuatan bagi yang lain. Dengan begitu, pesantren tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling belajar dan saling menguatkan,” tuturnya.

Pendekatan tersebut dinilai penting untuk memperkuat pesantren yang selama ini masih menghadapi keterbatasan sumber daya, khususnya di sejumlah daerah pedalaman dan luar Jawa.

Menurut Gus Rozin, keberhasilan penguatan pesantren pada akhirnya akan berkaitan langsung dengan kemampuan NU memperkuat jamaahnya.

“Kalau kita ingin membesarkan NU, maka yang harus diperkuat adalah kemampuan jamaah. Jamaah harus mampu membangun dan mengembangkan pesantren, sekolah, rumah sakit, usaha dan berbagai lembaga yang manfaatnya bisa dirasakan masyarakat,” katanya.

Gagasan tersebut menempatkan jamaah sebagai kekuatan utama organisasi. Pesantren menjadi salah satu ruang strategis untuk membangun kemampuan tersebut karena lembaga pesantren tidak hanya bergerak dalam pendidikan, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan kehidupan sosial masyarakat.

Di Jawa Tengah, penguatan kapasitas santri juga ditunjukkan melalui kerja sama PWNU Jawa Tengah dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam membuka Program Beasiswa Santri dan Pengasuh Pesantren 2026 bagi santri asal Jawa Tengah.

Rangkaian pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pesantren telah menjadi bagian panjang dari perjalanan Gus Rozin. Isu kepesantrenan tidak muncul secara tiba-tiba dalam momentum pencalonan Ketua Umum PBNU, tetapi berkaitan dengan berbagai peran yang telah dijalaninya.

Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 akan menjadi salah satu momentum bagi para muktamirin untuk menentukan arah kepemimpinan organisasi ke depan.

Di tengah kontestasi tersebut, Gus Rozin membawa pesantren sebagai salah satu tawaran utama. Bukan sekadar program organisasi, melainkan sebagai fondasi untuk memperkuat kaderisasi, pendidikan, jamaah dan kemandirian NU.

Dengan pengalaman di RMI, LP Ma'arif, dunia pesantren dan Majelis Masyayikh, Gus Rozin menawarkan gagasan bahwa membangun masa depan NU harus dimulai dengan memperkuat akar yang selama ini menopang organisasi.

Akar itu adalah pesantren, jamaah dan lembaga-lembaga yang tumbuh serta memberi manfaat langsung di tengah masyarakat.