JATIM MEMANGGIL - KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin menempatkan pesantren sebagai salah satu fondasi utama yang harus diperkuat jika dirinya mendapat amanah memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Gagasan tersebut tidak hanya menyangkut pendidikan, tetapi juga kaderisasi, tata kelola, teknologi, ekonomi dan pemberdayaan jamaah.

Ketua PWNU Jawa Tengah itu memandang pesantren mempunyai posisi yang sangat strategis dalam perjalanan Nahdlatul Ulama. Pesantren menjadi ruang lahirnya ulama sekaligus tempat berlangsungnya proses pewarisan tradisi keilmuan dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama'ah.

“Pesantren adalah jantung Nahdlatul Ulama. Dari sanalah ulama dilahirkan, kader ditempa, dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama'ah diwariskan,” kata Gus Rozin, ditulis Selasa (25/8/2026). 

Karena itu, ia menilai kebijakan terhadap pesantren tidak boleh hanya berorientasi pada pembangunan sarana fisik. Pesantren membutuhkan penguatan secara menyeluruh agar mampu menghadapi tantangan baru tanpa kehilangan identitas dan tradisi yang menjadi karakter utamanya.

“Pesantren harus mampu menjawab tantangan zaman, tetapi pada saat yang sama tidak kehilangan karakter dan tradisi keilmuannya. Karena itu, penguatan pesantren harus dilakukan secara menyeluruh,” ujarnya.

Gagasan tersebut mencakup peningkatan kualitas sumber daya manusia, pembenahan tata kelola kelembagaan, pengembangan pendidikan, pemanfaatan teknologi hingga penguatan ekonomi pesantren.

Bagi Gus Rozin, pesantren juga perlu ditempatkan dalam ekosistem yang memungkinkan lembaga-lembaga pesantren saling berbagi pengalaman. Pesantren yang telah berhasil mengembangkan suatu program dapat menjadi rujukan bagi pesantren lainnya.

“Kita harus membangun ekosistem. Kekuatan yang sudah dimiliki satu pesantren atau satu cabang harus bisa menjadi kekuatan bagi yang lain. Dengan begitu, pesantren tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling belajar dan saling menguatkan,” tuturnya.

Gagasan tersebut menjadi penting karena kondisi pesantren di berbagai daerah tidak selalu sama. Sebagian pesantren telah berkembang dengan tata kelola modern, sementara lainnya masih menghadapi keterbatasan sumber daya, akses pendidikan, teknologi maupun pengembangan ekonomi.

Karena itu, penguatan pesantren menurut Gus Rozin harus dilakukan melalui kolaborasi dan pendampingan, termasuk untuk pesantren di wilayah pedalaman dan luar Jawa.

Pandangan tersebut bukan semata gagasan yang disampaikan dalam momentum pencalonan Ketua Umum PBNU. Gus Rozin memiliki pengalaman panjang dalam dunia kepesantrenan.

Sebelum memimpin RMI PBNU, ia pernah menjadi Wakil Ketua LP Ma'arif PBNU periode 2010-2013. Selanjutnya, Gus Rozin dipercaya menjadi Ketua RMI NU Jawa Tengah periode 2013-2015 dan Ketua RMI PBNU periode 2015-2021.

Dalam perjalanan di RMI, sejumlah agenda penguatan pesantren dan santri menjadi bagian dari kiprahnya. Di antaranya pengawalan lahirnya Undang-Undang Pesantren pada 2014-2019, Liga Santri Nasional, Gerakan Ayo Mondok, Hari Santri Nasional serta Apel Akbar Santri Nusantara.

Sejumlah program sosial dan penguatan kehidupan pesantren juga pernah dijalankan, termasuk Gerakan Pesantrenku Bersih, Pesantren Keren, Satkor Covid RMI PBNU, Kado Lebaran untuk Guru Ngaji, Gerakan Pesantren Asuh bagi Anak Yatim Indonesia dan program beasiswa LPDP untuk santri.

Kiprah tersebut kemudian berlanjut melalui keterlibatan Gus Rozin sebagai Ketua Majelis Masyayikh. Posisi tersebut mempertemukannya dengan isu mutu dan tata kelola pendidikan pesantren dalam lingkup yang lebih luas.

“Penguatan pesantren bukan pekerjaan yang bisa selesai dalam satu periode. Ini merupakan proses panjang yang membutuhkan kesinambungan, kolaborasi dan komitmen bersama,” kata Gus Rozin.

Dalam pertemuan bersama PWNU dan PCNU se-Nanggroe Aceh Darussalam pada 19 Agustus 2026, isu pesantren kembali menjadi salah satu pembahasan. Dalam forum tersebut, Rais Syuriyah PCNU Aceh Tengah menekankan pentingnya pembangunan NU yang tetap berpijak pada akar utamanya, yakni pesantren.

Forum itu juga memunculkan pertanyaan tentang komitmen konkret terhadap pesantren apabila Gus Rozin memperoleh amanah memimpin PBNU.

Ketua Tanfidziyah PWNU Aceh, Tengku Haji Faisal Ali, menilai pengalaman Gus Rozin di dunia pesantren menjadi salah satu modal penting. Gus Rozin disebut memiliki pengalaman sebagai pimpinan pondok pesantren serta pernah terlibat dalam berbagai organisasi yang berkaitan dengan pendidikan dan kepesantrenan.

Selain berbicara mengenai penguatan lembaga pendidikan, Gus Rozin menilai masa depan pesantren juga harus dikaitkan dengan kemampuan jamaah membangun lembaga yang mandiri.

“Kalau kita ingin membesarkan NU, maka yang harus diperkuat adalah kemampuan jamaah. Jamaah harus mampu membangun dan mengembangkan pesantren, sekolah, rumah sakit, usaha dan berbagai lembaga yang manfaatnya bisa dirasakan masyarakat,” katanya.

Dengan pendekatan tersebut, penguatan pesantren ditempatkan sebagai bagian dari agenda membangun NU dari bawah. Struktur organisasi tetap penting, tetapi kekuatan jamaah dan lembaga yang hidup di tengah masyarakat juga harus mendapat perhatian.

Gagasan tersebut menjadi salah satu tawaran Gus Rozin menjelang Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026.

Pesantren dalam gagasan Gus Rozin tidak berdiri sebagai sektor yang terpisah dari NU. Pesantren diposisikan sebagai pusat kaderisasi, pendidikan, pemberdayaan masyarakat sekaligus salah satu fondasi penting untuk menjaga keberlanjutan Nahdlatul Ulama.